Beberapa hari yang lalu telah
diadakan subiah pesta demokarsi di ibu kota Jakarta yang merupakan etalase dari
negri ini, dan dari pesta demokarsi itu dimenang kang oleh pasangan Jokowi dan
ahok (sapaan akrap). Jokowi yang merupakan wali kota solo hijrah ke ibukota
dengan alas an ingin membangun dan menata ibukota yang menurutnya selama ini
pembangunannya kurang maksimal. Jokowi bersuku jawa. Tak beda ubahnya dengan
Ahok yang yang berasal bersuku tionghoa da berasal dari salah saru kepulauan
yang ada di Sumatra, yaitu Belitung.
Belitung merupakan salah satu daerah
yang di huni oleh beberapa etnis, mulai dari Melayu, Jawa, Bugis, dan tak
ketinggalan juga masyarakat tionghoa dan kelompok lain. Dalam kehidupan antar
suku, agama, ras dan golongan dikepulauan Belitung sudah terjalin sejak berabad-abad silam. Jalinan itu bermula
dari kedatangan masyarakat China ke kepulauan itu, kemudian membaur bersama
kelompok masyarakat Melayu, Jawa, Bugis, dan kelompok lain.
dalam bukunya Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled from Chinese
Source, WP Goeneveldt, menyebutkan,
pembahasan tentang Pulau Bangka pernah ditulis dalam kitab klasik China,
Hsing-cha Sheng-lan (tahun 1436). Diceritakan, Bangka Belitung merupakan
wilayah kepulauan yang memiliki tradisi unik dan pemandangan indah dengan
sungai-sungai dan tanah datar.
sedangkan pada Sumber lain menyebutkan, komunitas China mulai menetap di Pulau Belitung
tahun 1293. Saat akhir kejayaan Kerajaan Sriwijaya itu, rombongan kapal tentara
China yang berlayar hendak menyerang Kerajaan Singasari, Jawa Timur, dihantam
badai besar. Rombongan itu terdampar dan akhirnya menetap di Belitung. Pada
abad ke-18 tentara China di bawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho juga sempat
singgah di Pulau Belitung.
Kehadiran bangsa China secara besar-besaran di Kepulauan Bangka Belitung
berawal dari penambangan timah pada awal abad ke-18. Mary F Somers Heidhues
dalam Bangka Tin and Mentok Pepper memaparkan, ribuan pekerja asal China datang
secara massal sebagai kuli kontrak di penambangan timah di Bangka dan Belitung
tahun 1710.
Kuli kontrak itu umumnya berasal dari daerah utara Kwantung dan selatan Fukien,
China, dan biasa disebut Hakka. Kadang, mereka dipanggil Xinke atau orang Khek.
Selain itu, ada kaum Hokkian yang datang atas kemauan sendiri untuk berdagang.
Kelompok lain yang datang adalah kelompok Hainan, Kanton, dan kelompok Techiu.
Setiap kelompok memiliki bahasa sendiri-sendiri.
Sebagian kuli kontrak pulang kembali ke kampung halaman di China, sebagian lagi
menetap di sejumlah kawasan di Pulau Belitung. Mereka yang tinggal rata-rata
kaum lelaki dan akhirnya menikah dengan kaum perempuan lokal.
Menurut pengamat budaya asal Pangkalpinang, Willy Siswanto, sejarah ini
memunculkan kesadaran bersama di antara masyarakat China dan Melayu serta
kelompok lain di Bangka Belitung. Mereka sama-sama menyadari, kehidupan di
kepulauan itu berangkat dari usaha timah. Kesadaran ini melahirkan kedekatan
emosional dan ada perasaan senasib, tanpa memedulikan suku, ras, dan golongan.
Kesadaran itu lantas diturunkan dari generasi ke generasi, baik oleh masyarakat
China, Melayu, maupun kelompok lain. Kebetulan sekali, kawasan Bangka Belitung
tidak memiliki sejarah kerajaan besar yang mewariskan feodalisme-monarki
sehingga tidak memicu budaya kelas. Tak ada stratifikasi sosial di kepulauan
itu.
Meski ada ikatan sejarah, hubungan Melayu-Tionghoa di Bangka Belitung
sebenarnya juga tak luput dari gesekan. Menurut Suhaimi Sulaiman, pada masa
penjajahan Belanda, rasa iri terhadap orang-orang Tionghoa yang dianakemaskan
oleh Belanda juga terjadi di wilayah kepulauan itu.
Namun, dalam perkembangannya, ketika Indonesia sudah merdeka, orang-orang Tionghoa
di Bangka Belitung mulai berkolaborasi dengan orang-orang Melayu. ”Caranya ya
itu tadi, mereka memberi berbagai kemudahan untuk orang Melayu,” kata Suhaimi.